Thursday, November 20, 2008

aku dan apa yang dipikiranku

Banyak orang bertanya knapa aku tidak menemui anakku…., bahkan salah seorang kakak mantan suamiku pernah bilang ke kakak sepupuku bahwa aku ibu yang tak punya kasih karena seharusnya seorang ibu meloncati tembok tinggi untuk menemui anaknya ( pertanyaannya apa orang yang membangun tembok tinggi antara anak dan ibu itu punya kasih?…tapi orang yang membangun tembok itu merasa punya kasih)………

Sungguh tidak ada seorang ibu pun di muka bumi ini yang tidak mau menemui anakknya, apalagi pada saat anakku diambil anakku masih menyusui setiap malam ( dan ini dikatakan bohong oleh mantan suamiku, bahkan samapi aku bilang  ASI harus dimaintanance agar bisa terus keluar, tetapi dia blg ASI kan memang keluar terus——–bayangkan dia tiap hari pergi pagi pulang tengah malam, bagaimana dia melihat saat aku menyusui? saat sampai rumahpun lgs tidur, tengah malam aku menyusui pun dia tidak melihat, dan aku dikatakan bohong——)

…6 bulan aku tidak bertemu anakku…saat mantan suamiku dan keluarganya mengambil Hugo  dariku karena alasan aku menelantarkan anak dalam keadaan sakit dan pergi ke tempat seorang laki2, dan mereka sama sekali tidak bicara padaku SAMA SEKALI TIDAK ……….( yang bisa kukatakan adalah , aku seorang dokter..bekerja tidak hanya sebagai dosen namun juga praktek kedokteran…setiap hari aku slalu mengajarkan pada mahasiswa bahwa apapun tindakan kita pastikan kita punya “reason” yang bisa dipertanggungjawabkan…jadi waktu aku pergi kerja pada pagi sampai sore hari lalu ke tempat teman itu karena aku punya alasan, anakku waktu itu batuk , sudah diberi obat dan tiap jam aku kontrol by phone, anakku di rumah bersama ibuku dan baby sitter……aku datang ke tempat temanku karena aku memerlukan dokumen yang harus segera kubuat dan itupun atas perintah suamiku   ——setiap aku katakan ini mantan suamiku akan tertawa dan akan bilang aku mengarang—-)

Aku sempat datang ke rumah orangtua mantan suamiku , tapi anakku  tidak ada di rumah itu ..aku sempat menemui orangtuanya di pelabuhan ratu tapi jawabannya adalah nanti klo sudah besar anak itu juga akan mencari sendiri ibunya………soooo meski dah diterangkan bahkan dengan bukti2 mereka tetap bilang aku pembohong..bahkan Romo tempat aku sepakat berpisah dengan mantan suamiku pun sudah mencoba menghubungi mereka juga, tetapi malah romo tersebut diperlakukan agak tidak sopan (via telephone)….Bahkan suamiku dan kakaknya mendatangi kantor tempatku mengajar dan menceritakan tentang aku bagaimana aku menelantarkan anakku, berselingkuh dll mereka kemudian minta supaya aku dinon aktifkan, dan akhirnya aku dinonaktifkan….mereka juga datang ke tempatku mengajar di fisioterapi dan minta pihak fisioterapi mengubah status pengangkatanku sebagai staf pengajar tetap menjadi staf pengajar tidak tetap, tapi pihak fisioterapi menolak….

Beberapa hari lalu aku bertemu dengan mantan suamiku dan pengacara dia dan pengacaraku…. aku kalah hak asuh anak dipengadilan karena dianggap ibu yang tidak baik tidak bertanggung jawab meninggalkan anak dalam keadaan sakit ke tempat laki2 lain dan sudah disuruh pulang tapi tetap tdk mau…meski dengan bukti dan saksi yang jelas nyata, bukan karangan dan bukan atas dasar ceritaku, tetapi apa yang saksi lihat… aku meninggalkan rumah belum sampai 10 jam, plg kerja ke tempat temanku utuk melihat dokumen pembiayaan anak dan dokumen draft perceraian (atas perintah suamiku), ayahku tau akan hal itu karena sebelum pergi ke tempat temanku aku smpt bicara pada ayahku, aku punya catatan lengkap riwayat tumbuh kembang anak, tiap giginya tumbuh, dia berjalan, dia bicra, dia memeluk, di berhitung, imunisasi, riwayat kesehatannya dari dokter anak, apa saja yang sudah bisa dia lakukan, jadwal makan, jenis makanannya, jenis susu dan lengkap dengan riwayat sakitnya dan apa saja yang harus dipantau…aku pun punya saksi yang membuktikan aku sering membawa anakku ke kantor supaya aku tetap bisa memberikan ASI , dan ke kantor lengkap dengan kasur, stroler, blender , mainan dll……..bagaimana di sela aku bekerja dan kuliah lagi aku masih bisa menyusui anakku full, tapi aku tetap dianggap ibu yang tidak baik, ibu tak bermoral, ibu di bawah standard…sehari sebelum keputusan panitra minta pengacaraku merapat ke hakim, tapi aku bilang tidak usah…karena aku tidak mau anakku dijadikan alat apapun ……Dia manusia , dia punya hak untuk hidup , bukan alat untuk memeras apalagi untuk menjatuhkan ibunya…..dan itu yang membuatku kuat…… saat bertemu dan kukatakan bagaimana aku mengandung sampai muntah darah, meregang nyawa saat melahirkan , berjuang menyusui sampai 2 tahun dia bilang dengan lantang “itu kan kodrat” …detik itu aku sangat sadar betapa laki2 yang pernah kunikahi benar2 tidak menghargai perempuan, perjuangan seorang ibu dan nyawa seorang ibu….

Dia  juga bilang bahwa aku boleh bertemu dengan anakku di rumah orangtuanya kapan saja asal ada dia ( pertanyaanya kapan dia ada? setiap saatkah? ) ..dan dia bilang aku tidak menanyakan kabar anakku sama sekali , padahal aku sms dia dan selalu dijawab “sehat,senang dan bahagia” dia blg terakhir aku sms Mei, dan itu sama sekali tidak benar aku punya buktinya…aku juga sms and tlp dengan baby sitter, kakak laki2nya yang tinggal di rumah orangtuanya, bahkan  masih sms mamanya untuk mengingatkan imunisasi…tapi aku tanya ke dia klo dia punya niat baik kenapa dia tidak pernah bilang padaku bhw anakku di sekolahkan, anakku sakit dan sempat dibawa ke rumah sakit Hermina Jatinegara, dia juga tidak bilang susu anakku sekarang dicampur dengan susu sapi, padahal alergi anakku thdp susu olahan sapi masih dalam pengawasan ,dan dia tak menjawab hanya mentertawakan aku…..semua kuketahui dan tidak ada satupun yang berasal dari dia atau keluarganya…tidak ada yang bilang padaku, itu kalo dikatakan mereka tidak memisahkanku dengan anak…( pertanyaannya mana niat baik mereka? atau mana kepedulian mereka thdp anakku?) …….

Andai aku temui anakku sesuai yang mereka minta dengan pengawasan dan  tidak boleh dibawa , ( jadi aku dianggap penjahat brutal yang akan melukai anak  padahal aku ibu yang mengandung , melahirkan dan menyusui), cuma beberapa jam atau kurang aku bisa menemui , bagaimana kondisi psikologis anakku? andai aku melakukan seperti mereka merebut anakku dengan paksa bagaimana kondisi anakku? ….. pelukan seorang ibu akan sangat berbeda dengan pelukan nenek, bude, pakde, ayah, kakek, baby sitter dan lain2…sangat berbeda…ikatan batin tidak mungkin diputuskan oleh apapun, lalu bagaimana jika  aku datang dan anakku tidak mau melepaskanku, kemudian dipaksa melepaskan…aku terlalu mencintai anakku untuk sanggup melihat anakku makin terluka batin….anakku berusia 2 thn saat mereka mengambil, kini 2,6 thn apa yang bisa diteriakkan seorang anak usia 2,6 thn? …..mantan suamiku bilang anakku tidak pernah mencari aku ( pertanyaanya bagaimana sampai dia tidak mencariku , sedangkan saat dia tinggal di rumah orangtuaku tiap hari setiap siang dia slalu minta tlp aku, bahkan tiap bangun tidur dia selalu mencariku,——–bhkn mantan suamiku sdr pernah sms aku suatu pagi saat aku di luar kota, bahwa anakku mencariku———, lalu apa yang mereka lakukan hingga anakku tidak mencariku ?..meski menurut baby sitter yang tiap jam bersama anakku, anakku masih mencariku, tetapi disangkal oleh mantan suamiku dan keluarganya,bahkan baby sitterku diminta menandatangani surat pernyataan tanpa boleh membaca saat dia tandatangani, dia diperbolehkan membaca sehari kemudian saat surat pernyataan itu sudah ditandatangani)….Dalam sekejap anakku harus adaptasi dengan lingkungan baru yang berbeda dengan tempat dia sejak lahir sampai usia 2 thn , itu sudah stressor tersendiri, dalam sekejap dia tidak bisa bertemu denganku ibunya yang mengandung, melahirkan dan menyusui, dan dalam tempo 4 bulan baby sitter yang dia kenal sejak lahir pun terpaksa meninggalkannya karena dia mau hidup yang lebih baik dan tidak betah di sana, bagaimana stressor yang dialami anakku? siapa yang memikirkannya? apa mereka berpikir?  aku ibunya, dan aku memikirkannya, SANGAT!

Mereka bicara moral …aku dikatakan punya moral yang buruk…lalu seperti apakah moral seorang laki2 yang tidak menghargai perempuan, tinggal dirumah mertua sejak menikah selama 3 thn, dan 2,5 thn tidak menegur orangtuaku, bagaimana seorang laki2 yang tiap hari pulang tengah malam tanpa memberitahu istri, bagaimana moral seorang laki2 yang sudah mengatakan berpisah dengan istrinya, lalu dengan orangtua istrinya, lalu romo, kemudian mengatur jebakan untuk membuat istrinya tampak buruk seperti yang dipikirkannya? lalu bagaimana moral seorang laki2 yang saat istrinya hamil menyuruh istrinya menunggu di mobil di parkiran 4 jam sampai tengah malam dengan alasan saat istri mau pulang naik taksi dikatakan sayang uangnya? lalu bagaimana seorang laki2 yang saat istrinya hamil sering ngambek , mendiamkan istrinya dan pulang ke rumah orangtuanya, bagaimana seorang laki2 yang saat istrinya hamil 6 bulan bilang bhw dia sudah tidak punya perasaan lagi terhadap istrinya dan tidak peduli lagi terhadap mertuanya, bagaimana seorang laki2 di kala istrinya hamil, menyusui masih harus membukakan pintu tiap tengah malam saat dia pulang karena dia tidak mau membawa kunci duplikat meski sudah diberikan, bagaimana seorang laki2 mengatakan istrinya tidak mengurus dia padahal distrinya tetap menyiapkan makan, susu, dll dan itu bahkan selalu dibawa di kamar karena laki2 itu tidak mau makan di luar karena tidak mau bertemu dengan mertuanya, bagaimana seorang laki-laki yang mengatakan dia harus mencuci sendiri menyetrika sendiri baju yang akan dipakai ke kantor dan bilang bahwa istrinya nggak ngapa2in…padahal istrinya bekerja, menyusui, mengurus anak, mengatur makanan anak, dan yang mencuci pun tidak dia hanya sesekali bila baby sitter pulang kampung itupun hanya dimasukkan ke mesin cuci….dan semua yang kukatakan dikatakan bohong olehnya, aku dikatakan pembohong…bahkan dengan begitu banyak saksi dan bukti aku tetap dikatakan pembohong oleh dia, keluarganya dan pengacaranya…..

Posted by heartspace at 02:44:17
Comments

Leave a Reply